TUBAN, Kenduruan,– Suasana khidmat dan hangat menyelimuti Padepokan PSHT Ranting Kenduruan, Desa Sidomukti, Sabtu malam 25 Juli 2026. Ratusan warga berkumpul bukan untuk kegiatan silat, tapi untuk bersama-sama dalam Pengajian Umum rangka Tasyakuran Warga Baru PSHT Ranting Kenduruan.
Acara dimulai pukul 20.00 WIB dan ditutup dengan doa bersama sekitar pukul 23.30 WIB. Sekitar 200 orang hadir, mulai dari warga PSHT, jamaah pengajian se-Kenduruan, hingga para tokoh lintas elemen.
Turut hadir Forkopimka Kenduruan, Ketua Ranting PSHT Kenduruan Darsimin, perwakilan Ketua PSHT Cabang Tuban Cipnal Muchlip MSE, pengurus PSHT Cabang Tuban Muslimin, para ketua perguruan se-Kecamatan Kenduruan, serta Kepala KUA Kenduruan Muhammad Afif, S.H.I.
Ceramah agama atau _maudhotul hasanah_ disampaikan KH Ahmad Rofi Mahfud dari Sidoarjo. Rangkaian acara berjalan sederhana: pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, tausiyah, lalu doa penutup.
Dalam sambutannya, Ketua Ranting PSHT Kenduruan Darsimin menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan menjadi warga yang bermanfaat bagi masyarakat. Sementara perwakilan PSHT Cabang Tuban mengajak warga baru untuk terus menanamkan nilai persaudaraan, budi pekerti, dan cinta tanah air.
Guna memastikan kegiatan berjalan tertib, pengamanan dilakukan bersama. Terlihat 10 personel Polsek Kenduruan, 3 personel Polsek Bangilan, 4 personel Polsek Jatirogo, 6 personel Koramil Kenduruan, 3 personel Satpol PP, dan 15 anggota Pamter. Pengamanan dipimpin langsung Kapolsek Kenduruan AKP Teguh Triyo Handoko, S.H., M.H., M.A.P.
Kapolres Tuban KOMBES POL. Jazuli Dani Iriawan, S.I.K., M.Tr., Opsla, melalui Kapolsek Kenduruan menyampaikan apresiasinya.
“Kami mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Pengajian dan tasyakuran menjadi ruang mempererat persaudaraan antar warga. Alhamdulillah kegiatan dari awal sampai akhir berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.
Tidak ada insiden selama acara. Warga tampak duduk berdampingan, menyimak tausiyah, lalu berdoa bersama menutup malam.
Kegiatan seperti ini menjadi cermin bahwa tradisi dan spiritualitas bisa berjalan beriringan. Di Padepokan PSHT Kenduruan malam itu, yang terdengar bukan hanya lantunan ayat, tapi juga semangat kebersamaan warga Kenduruan untuk saling menjaga. (eko/wono)



